'real' short stories

Hidup = Pilihan

Rasa benci dan senang, memang selalu menjadi warna dalam kehidupan setiap insan di bumi. Kedua rasa itu, seakan tarik-menarik, membuat si pemilik, menjadi sangat tenggelam dalam perasaannya. Efek dari keduanya, sangat dashyat untuk dirasakan dan ditanggung oleh sang manusia. Bisa membuatmu menangis, sekaligus bersorak-sorak kegirangan dengan senyum lebar di wajah.

Jika kau membayangkan seorang manusia, yang membuatku merasakan kedua rasa itu, mungkin, sedikit benar. Tapi, tidak terlalu tepat.

Maret - Desember 2010
Ini adalah pertama kalinya, aku menjadi seorang "KARYAWAN". Aku bekerja di sebuah lembaga pendidikan, sebagai petugas ADMINISTRASI. Paling tidak, itulah yang tercantum dalam surat kontrak kerja yang kuterima.

Hari-hari dan bulan-bulan pertama, aku merasa sangat bahagia. AKU DAPAT GAJI. Jumlahnya, terhitung banyak untukku yang baru pertama bekerja secara 'profesional'. Aku bisa membeli sesuatu dengan gajiku sendiri, hasil jerih payahku. Ibuku pun melihat kebahagiaan itu diwajahku.

Memasuki bulan-bulan berikutnya, aku merasa sangat lelah di tempat kerjaku ini. Bukan, sama sekali bukan karena malas, melainkan, karena aku merasakan kebosanan yang berubah menjadi luar biasa. Keceriaan anak-anak, dan kebaikan staff lainnya, yang biasanya membuatku tertawa, seakan sudah pergi jauh. Aku berusaha tetap bertahan, dan melawan rasa bosan itu. Rupanya, trik tetap bertahan, membuatku sampai pada satu keputusan penting.

Aku akhirnya memutuskan resign dari sana, Lembaga Pendidikan yang sudah memberiku gaji dan pekerjaan. Keputusan itu kuambil, juga melalui pemikiran yang panjang selama hampir dua bulan terakhir aku disana. Dan menurutku, keputusan resignku dikarenakan, apa yang selama ini aku kerjakan, tidak sesuai dengan job desk yang diberikan padaku, tidak sesuai surat kontrak kerja.

Aku yang menginginkan pekerjaan ini, karena himpitan biaya dan ingin merasakan hidup mandiri. Tetapi, aku juga yang memutuskan untuk keluar. Tapi, tentu saja, sebuah keputusan juga dibarengi dengan keputusan lain. Aku memutuskan menerima tawaran saudaraku, untuk bekerja di perusahaan yang sama dengannya.

Januari - Desember 2011
Aku mulai lagi beraksi sebagai KARYAWAN, kali ini berbeda dengan tempat kerjaku sebelumnya. Aku menjadi penjaga jalanan, alias PETUGAS KASIR TOL, atau disebut PULTOL. Perusahaan tempatku bekerja sekarang, jelas lebih besar dari sebelumnya, gajinya...... lebih tinggi.

Hari-hari yang kujalani disana, sebagai PULTOL, terasa sangat berbeda dari tempat kerjaku sebelumnya, yang sebagai PETUGAS ADMINISTRASI. Aku senang disini. Rekan-rekan kerjaku, mereka semua sebaya denganku, usia mereka tidak terpaut terlalu jauh denganku, malah, ada yang seumuran. Hehehe...

Aku melewati pekerjaan ini, dengan penuh suka cita. Rekan kerjaku, teman-temanku, berubah menjadi sahabat dekat. Kita sering touring bersama, ngumpul sambil mancing, dan akhirnya, rasa yang dinamakan cinta pun tumbuh di lingkungan kerjaku ini. Tapi, persahabatan terasa lebih penting, dan itulah, yang membuatku sangat, sangat betah di tempat ini.

Sampai akhirnya, menjelang akhir bulan Desember, kabar buruk mampir ke telingaku. Akan ada rapat perpanjangan kontrak kerja para pegawai (perusahaan TOL memang masuk outsourcing), termasuk aku. Tapi, aku tetap tenang dan rileks. Entah kenapa, aku merasa sangat yakin, aku akan tetap disini, bersama teman-temanku ini.

Ternyata, feelingku sangat salah, aku tertipu dengan feeling itu. Aku diberhentikan, kontrakku tidak diperpanjang oleh perusahaan. Kepalaku terasa panas saat telingaku mendengarkan statement itu. Aku termasuk dalam 7 orang yang tidak diperpanjang. Itu berarti, aku tidak lagi bekerja disana, tidak lagi bersama sahabatku, walaupun ada sahabat lain yang bernasib sama denganku.

Di tengah kebingungan dan kesedihanku, serta pikiran tentang beban biaya kuliah, aku mendapat tawaran dari teman kuliahku. Bekerja di perusahaan yang sama dengannya, dan lagi sebagai PETUGAS ADMINISTRASI. Entah karena bingung atau memang otakku sudah buntu, aku langsung menerimanya, tanpa memikirkan semuanya lebih dulu.

Januari - Maret 2012
Aku sudah terbilang resmi menjadi KARYAWAN lagi. Sekarang, di sebuah perusahaan Asuransi Jiwa. Walaupun masih training, aku sudah menjadi andalan penuh si boss, yang memang membutuhkan seorang administrasi.

Aku sangat mengingatnya. Hanya dua minggu aku berbahagia disana, selanjutnya, adalah perasaan bosan dan tertekan, sama seperti yang kualami di LEMBAGA PENDIDIKAN. Aku merasa lingkungan pekerjaanku sekarang asing, aku tidak bisa masuk kedalamnya. Aku sudah mencobanya, tapi selalu gagal.

Bosku adalah seorang yang sangat baik, orang ber-etnis Cina yang sopan dan ramah. Ia sangat menghormatiku, ia selalu memuji kepintaranku dalam bekerja. Aku membatin, seandainya aku berada di perusahaan lain dengan Bos yang sama. Aku merasa, lingkungan pekerjaan inilah, yang menghalangi kebahagiaanku dengan segala kehormatan, dan kebanggaan dari si Bos. Bosku baik, tapi, hatiku tidak bisa bertahan di tempat ini, aku ingin keluar secepatnya dari sini.

Akhirnya, Bos yang baik tidak bisa kujadikan alasan bagus untuk menahan rasa bosan setengah mati itu. Awalnya, si Bos menyuruhku untuk berpikir ulang mengenai keputusan resignku. Tapi, rasa bosan itu terlalu kuat, dan mengalahkanku, hingga Bosku pun menerima keputusanku.

Tapi, sekali lagi, keputusanku resign dari perusahaan Asuransi, dikarenakan aku sudah melamar kerja di tempat kerja lain, yang menurutku, sangat menggambarkan diriku. Dan, aku diterima.

Maret 2012 - Tidak tahu kapan
Aku masuk menjadi salah satu COPYWRITER di tempat kerjaku yang sekarang. Memang, aku menginginkan posisi ini. Aku suka menulis, dan pekerjaan sebagai copywriter, terasa sangat pas kusandang. Skill menulisku terasah.

Aku senang disini, sama seperti saat aku menjadi PULTOL. Rekan-rekan kerja baru yang smart, sangat mengerti dunia online. Aku mulai tertarik dengan usaha yang dijalankan bosku sekarang. Toko Online, dan aku menjadi salah satu penulis artikel produknya.

Rasa tertarikku pada usaha si Bos, membuatku ingin mencoba membuat toko online sendiri. Aku bekerja dengan baik, berharap bisa memperoleh ilmu dari si Bos.

Disinilah, semua permasalahan mulai terjadi. Satu kesalahan yang tidak sengaja kulakukan (yang sudah biasa terjadi di dunia kerja), membuat si Bos tidak suka padaku, benci (tepatnya, itu menurutku). Setelah ditegur, aku meminta maaf, berusaha dan berjanji tidak melakukan kesalahan yang sama. Aku sudah bekerja menurut aturan si Bos. Aku sudah mengerjakan semua yang diperintahkan padaku, dengan baik.

Tapi, sepertinya memang, hati si Bos seperti tidak pernah bisa memaafkanku. Entah kenapa, semua hasil kerjaku, tidak pernah ada yang benar di mata si Bos. Si Bos tidak pernah puas dengan pekerjaanku. Dan sejak saat itu, aku merasa seperti anak tiri disana. Merasa tertekan, tapi tetap senang, karena pekerjaan menulisnya.

Sampai pada suatu hari, si Bos mengucapkan kata-kata yang sangat membuat hatiku sakit. Dia berkata, tidak puas dengan pekerjaanku, dan walaupun tidak terucap jelas, kentara sekali, si Bos menyuruhku untuk mengundurkan diri. Aku sudah terbiasa dibentak-bentak, saat masih kerja di TOL. Tidak semua pengguna jalan orang baik, ada juga yang pemarah. Bosku yang sekarang, adalah orang yang sedikit bicara dan terkesan kaku. Tapi, ucapannya....... sangat nyelekit, langsung menusuk jantungku. Aku tidak pernah bisa membantah setiap omelannya yang nyelekit. Padahal, aku selalu membalas dengan keras juga, setiap komplain dari para pengguna jalan, saat masih jadi PULTOL.

Sejak terucap perkataan itu, aku mulai berpikir ulang lagi. Jantungku panas sekali. Aku ingin tetap disana, tapi si Bos, sudah tidak mengharapkanku lagi, seperti sudah tidak ingin aku bekerja disana.

Hingga saat ini, aku memutuskan bertahan. Tetap, dengan perasaan anak tiri yang dibenci, dan tidak disukai. Aku tidak tahu akan bertahan sampai kapan. Apa aku akan menunggu dikeluarkan, seperti di TOL ?. Pelan tapi pasti, sepertinya, (tapi aku sangat tidak mengharapkannya), keputusan akan dikeluarkannya aku dari si Bos, akan terjadi.

Dan sepertinya, aku sudah siap. Aku berjanji pada hatiku sendiri. Jika terucap kata itu lagi dari si Bos, aku akan segera resign dari sana. Aku tidak bisa menyakiti diriku sendiri. Kenyataannya, aku semakin kurus (aku memang kurus, tapi lebih terlihat tambah kurus). Sebagian besar, karena beban mental yang kujalani selama bekerja di Toko Online. Ada kebahagiaan, tetapi hanya sedikit, dan selanjutnya, hanyalah berisi penderitaan batin.

****
Itu adalah cerita 'real' alias nyata, Sobat.....
Aku menjalaninya, aku mengalaminya.
Dan dari semua itu, aku belajar satu hal. Bahwa, terkadang, apa yang sangat kita benci, bisa jadi adalah sahabat terbaik, dan berharga untuk kita jaga. Dan hal yang sangat kita inginkan, terkadang, jadi sangat berbahaya dan hanya bisa membuat kita menangis...
Dan mulai sekarang, aku sudah menyerahkan semua kehidupanku pada Tuhan. Biarkan Dia yang mengaturnya. Dia tahu yang terbaik untukku, termasuk pekerjaan apa yang seharusnya kuambil. Dan jika aku benar-benar keluar dari Toko Online, aku tidak akan menyia-nyiakan pekerjaan baruku nanti. Akan kujadikan mereka sebagai sahabat hangat, walaupun sulit pada awalnya. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar